Jika
perbendaharaan kata mereka mencapai 50 kata pada sekitar usia 18 bulan hingga 2
tahun, anak-anak mulai menggabungkan dua kata menjadi satu: lihat anjing, mana papa, lempar bola,buat
kue. Setelah gabungan dua kata ini timbul, jumlah gabungan kata-kata yang
berbeda meningkat secara lambat, kemudian secara tiba-tiba melonjak dengan
cepat. Contohnya seorang anak mengucapkan gabungan dua kata pada usia 19 bulan
dan menggunakan 14 kombinasi dua kata yang berbeda selama bulan itu. Dalam 6
bulan berikutnya jumlah kombinasi dua kata yang digunakannya meningkat menjadi
24, 54, 89, 250, 1.400 dan lebih dari 2.500 (Branie, 1963).
Pembicaraan telegrafik
Gabungan dua kata paling dini dan seorang anak tampaknya merupakan bentuk singkat kalimat orang dewasa yang terutama terdiri dari kata benda, kata kerja, dan beberapa kata sifat. Seperti halnya sebuah telegram, yang hanya terdiri kata-kata yang perlu, sedangkan kata depan, kata sambung, dan lain-lain dihilangkan.
Gabungan dua kata paling dini dan seorang anak tampaknya merupakan bentuk singkat kalimat orang dewasa yang terutama terdiri dari kata benda, kata kerja, dan beberapa kata sifat. Seperti halnya sebuah telegram, yang hanya terdiri kata-kata yang perlu, sedangkan kata depan, kata sambung, dan lain-lain dihilangkan.
Bila
kita meminta kepada seorang anak yang berusia antara 2 atau 3 tahun untuk
mengulang sebuah kalimat sederhana misalnya, “Saya dapat melihat seekor sapi,”
maka jawabannya seringkali berbentuk seperti sebuah telegram: “Lihat sapi” atau
“Saya lihat sapi”. Walaupun beberapa kata dihilangkan dapat dibuktikan adanya
keteraturan dan menuruti suatu peraturan tertentu. Kata-kata terpenting diulang
dan urutan kata yang benar dipertahankan. Hampir semua kalimat dua kata yang
pertama dari seorang anak menunjukkan suatu sistematika dan urutan kata-kata
yang sesuai. Sejak semula anak-anak mengikuti peraturan tata bahasa yang sederhana.
Mereka menunjukkan hubungan dasar tata bahasa antara subyek, kata kerja, dan
obyek kata kerja dengan meletakkan bagian pembicaraan ini secara benar dalam
kalimat-kalimat mereka yang pertama. (misalnya,”Saya tangkap bola”). “Contoh
kalimat diproses oleh anak itu sebagai suatu bentuk konstruksi dan tidak hanya
sebagai daftar kata-kata saja” (Brown, 1973).
Kalimat-kalimat
telegrafik menyatakan arti yang sangat luas. Tujuan anak dapat disimpulkan dari
urutan kata dan juga dari keadaannya. Contoh dari pembicaraan dini pada
anak-anak yang berbicara dalam berbagai bahasa Inggris, Jerman, Rusia, Finland,
Turki, dan Luo (bahasa di Kenya) – menunjukkan “suatu bentuk yang seragam pada
anak-anak dan bahasa dalam arti kata yang dinyatakan oleh ucapan dua-kata yang
sederhana” (Slobin, 1971). Hubungan semantik atau arti kata-kata khas dari
pembicaraan dini diperlihatkan dalam tabel 6.1. kemiripan isi dua-kata dari
anak-anak yang berbicara dalam bahasa yang sangat berbeda menunjukkan bahwa
ucapan dini timbul dari perubahan perkembangan kognitif yang universal dan dari
kerangka pikiran, tindakan dan interaksi sosial anak tersebut. Bicara timbul
dari pengalaman dengan benda, kegiatan dan interaksi umum dengan orang lain
dari berbagai kebudayaan (Slobin, 1971).
Perluasan
ucapan telegrafik
Setelah
pernyataan telegrafik mereka yang pertama, anak-anak mengeluarkan
kalimat-kalimat dengan kata-kata yang kurang penting seperti kata depan dan
kata sifat. Infleksi yang dihilangkan sebelumnya sekarang dipakai (Bowerman,
1982). Kalimat pendek mula-mula diperluas dengan “memasukkan” lebih banyak
komponen. Lihatlah urutan pernyataan seorang anak berusia 2 tahun yang bernama
Junus: “Duduklah ... Junus duduk ... Junus duduk (berhenti sejenak) kursi.”
Bentuk pertama terdiri dari sebuah predikat (“duduklah”), kemudian diperluas
dengan memberi subyek (“Junus”), lalu dimasukkan kata keterangan “kursi” (versi
keterangan tempat “di atas kursi”). Junus menggunakan pengetahuannya tentang
peraturan kata bahasa yang menentukan urutan kelas kata dalam bahsa subyek –
predikat – obyek – lokasi (di mana) (Brown, 1973).
Tampaknya
anak mulai menggunakan kata depan, infleksi dan kata kerja bantu dalam urutan
yang teratur. Dalam suatu penelitian longitudinal terhadap tiga anak kecil,
Roger Brown mengidentifikasi suatu urutan dari yang sederhana hingga yang
kompleks. Sebagai contoh ketiga anak itu menggunakan bentuk “-ing” dari kata
kerja dalam bahasa inggris sebelum mereka menggunakan kata kerja bantu. Jadi
anak-anak mengatakan “I going” dan “She going” sebelum mereka mengatakan “I am
going” dan “She is going”. Pada mulanya bentuk suatu kata yang baru didapat
mungkin jarang digunakan. Tetapi setelah 2 atau 3 tahun jumlah frekuensi
penggunaan yang tepat meningkat sampai ke tingkat orang dewasa.
Overegularisasi
Cara anak-anak menunjukkan perkembangan pengetahuan mereka tentang peraturan
tata bahasa ialah dengan membuat kesalahan-kesalahan. Overegularisasi adalah kecondongan untuk menghindari bentuk tidak
teratur dari kata kerja dan kata benda majemuk serta menggunakan bentuk yang
umum saja. Hal ini digambarkan dalam komentar seorang anak berusia 3 tahun,
“The mouses runned away.” Pembicara ini mengetahui bahwa bentuk jamak dibentuk
dengan menambahkan “-s” pada kata benda tunggal dan bahwa waktu lampau sebuah
kata kerja dibentuk dengan menambahkan “-ed”. Ini merupakan dua peraturan yang
penting dalam bahsa inggris yang harus dipelajari, walaupun tidak selalu
demikian halnya. Sebelum anak-anak belajar peraturan ini, mereka sering
menggunakan bentuk yang tidak teratur dengan benar. Setahun sebelumnya anak
usia 3 tahun tadi mungkin menunjukan ke beberapa tikus dan berkata “Mice.”
Beberapa waktu kemudian, setelah ia belajar peraturannya, anak-anak cenderung
menghindari ketidakteraturan dalam pembicaraan orang dewasa (Slobi, 1971).
Kalimat kompleks
Bila
kalimat sederhana yang panjangnya sekitar empat kata menjadi halnya yang umum
dan infleksi telah dikuasai secara umum antara usia 2 dan 3 tahun
kalimat-kalimat yang kompleks mulai timbul secara spontan dalam pembicaraan
seorang anak. Kalimat ini mungkin terdiri dari dua atau lebih kalimat sederhana
yang digabungkan dengan kata penghubung “dan”
(contoh, “Kamu memanggil dan Saya datang”) atau suatu pemikiran ada didalamnya
(contoh, “Saya harap saya tidak melukainya”).
Untuk
membuat kalimat yang kompleks, anak-anak harus mempelajari peraturan cara
menggabungkan kelompok kata yang lebih besar dan menggabungkan kata sambung
(misalnya dan, tetapi, karena). “Dan” umumnya merupakan kata sambung pertama
dan yang paling sering dipakai dalam perbendaharaan kata anak selama tahun
ketiga. “Karena”, “apakah”, “bilamana” juga sering digunakan, sedang “kemudian”, “tetapi”, “jikalau”, dan “bahwa” lebih jarang timbul (Bloom, Lahey, Hood, Lifter, &
Fies, 1980).
Kalimat
kompleks dini anak-anak, menyatakan sejumlah arti yang berbeda. Urutan
timbulnya hubungan semantik cukup konstan, walaupun beberapa anak memulai
urutan ini lebih awal dan bergerak maju lebih cepat dari yang lain. Hubungan
aditif yang dikemukakan pertama kali (“Kamu dapat mengangkat itu dan saya dapat
mengangkat ini “) diikuti oleh keterangan waktu dan sebab (“Sebaiknya kamu
mencarinya bila kembali ke rumah”, “Ia memasang plester di sepatunya dan hal
ini membuatnya merasa lebih baik”). Hubunan kontras atau berawalan (“Saya lelah
tetapi sekarang tidak lagi”), spesifikasi obyek (“Orang laki-laki itu yang
membetulkan pintu “), dan pemberitahuan (“Perhatikan apa yang akan saya lakukan”)
timbul kemudian. Selama tahun ketiga, kemajuan dalam penggunaan kalimat yang
kompleks biasanya lambat dan tanpa lonjakan kedepan yang tiba-tiba atau
perubahan cepat dari suatu bentuk kebentuk yang lain (Bloon ct al., 1980).
Pertanyaan
Kemajuan perkembangan bahasa juga terbayang dalam kemajuan secara bertahap
namun teratur dalam penghasilan dan pengertian sebuah pertanyaan. Seorang anak
berusia 2 tahun mengerti arti “ya” dan
“tidak”, seperti juga pertanyaan “di mana”, “siapa”, dan “apa”, dan
secara umum menjawab nya dengan benar. Pertanyaan ini mengenai manusia, benda,
dan tempat-tempat dengan hal yang menjadi perhatian dan diucapkan anak-anak
dalam kalimat pertama mereka. Pada usia ini pertanyaan dengan bila mana, bagaimana, dan mengapa dijawab
seolah-olah mereka ditanyai apa atau di mana. (Q: Bila kamu makan siang? A: Dalam dapur. Q: Mengapa kamu
memakan itu? A: Itu sebuah apel). Pada usia sekitar 3 tahun anak-anak mulai
menjawab pertanyaan “mengapa” dengan benar (Ervin-Tripp, 1977). Frekuansi jawaban
yang betul dari semua jenis pertanyaan “apa”,
“mengapa” meningkat pada usia 3 dan 5 tahun (Tyack, 1966).
Pertanyaan
ya atau tidak yang pertama dihasilkan merupakan pertanyaan yang berakhir dengan
nada meninggi (“Kaus kaki mama?”). “Apa”
dan “di mana” merupakan kata tanya
awal yang paling dini dan paling sering timbul dalam pertanyaan spontan seorang
anak. “Mengapa”, “bagaimana” dan “bilamana” mulai timbul sekitar 3 tahun
dan lebih meningkat penggunaannya selama 2 tahun berikutnya (Tyack &
Imgram, 1977). Pada mulanya kata tanya diletakkan pada permulaan kalimat tanpa
mengubah urutan kata dan pertanyaan, ditandai secara sederhana dengan
menambahkan tekanan interogatif pada akhir kalimat (“Apa mama lakukan?” “Ke
mana papa pergi?” “ Mengapa Joni tidak dapat makan kue?”).
Jika
anak-anak mulai membentuk kalimat yang lebih kompleks mereka juga merubah kata
kerja dan kata benda dalam pertanyaan ya atau tidak dengan benar (“Apakah
engkau akan menolong saya?”). tetapi mereka masih gagal membuat inversi ini
dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan dengan kata-kata di atas lebih kompleks
secara tata bahasa dibanding pertanyaan ya atau tidak. Dibutuhkan dua operasi:
memasukkan kata tanya dan merubah subyek serta kata kerjanya. Pada tahap ini
seorang anak dapat melakukan masing-masing operasi secara terpisah, tetapi
belum dapat menggabungkannya dalam kalimat yang sama.
Kata-kata deiktik Kata-kata deiktik ialah kata-kata seperti di sini, di sana, ini, itu yang
menunjukan lokasi benda dari pembicaraan. Pengertian anak dan kata-kata yang
dihasilkan ini muncul menunjukan bahwa anak kecil mampu mengambil titik
pandangan orang lain. Anak berusia 2 tahun jelas mengerti perspektif
pembicaraan jika diinterpretasikan kata-kata di sini dan di sana. Jika
seorang ibu mengatakan pada anaknya yang ada di ruangan lain, “Mainanmu ada di
sini”, maka anak itu akan bergerak ke arah ibu yang berada di sudut ruangan
untuk mengambilnya. Selanjutnya “ini”,
“itu” dan “di sana” sering
digunakan oleh anak kecil yang berusia dua tahun. Tetapi penemuan dalam
laboratorium menunjukkan, pengertian istilah-istilah ini secara lengkap tidak
tercapai hingga beberapa tahun setelah timbulnya pembicaraan anak pertama kali
suatu kasus produksi yang mendahului suatu pengertian (de Villiers & de
Villiers, 1977).
Dalam
sebuah penelitian, seorang anak yang berusia antara 2 dan 5 tahun duduk
berhadapan di meja yang berlawanan dengan si pengamat. Mereka bersama-sama
bermain sambil menghadap sebuah dinding rendah di atas pertengahan meja. Tiap
anak mempunyai sebuah cangkir yang terbalik. Sementara itu mata anak ditutup,
pengamat meletakkan gula-gula di bawah salah satu cangkir. Kemudian pengamat
memberi beberapa petunjuk misalnya, “Gula-gula itu berada di bagian ini dari
tembok” (atau “di bawah cangkir saya”
atau “di sini” atau “di depan tembok”). Untuk mendapatkan
gula-gula tersebut anak itu harus menerjemahkan pandangan orang lain ke dirinya
sendiri – “di bagian ini dari tembok”
(dari sisi pengamat) dipandang dari perspektif
anak ialah bagian itu. Semua
anak telah siap membedakan antara milik
saya dan milik kamu, tetapi anak
usia 2 tahun mendapat kesulitan jika dibutuhkan perubahan perspektif. Anak usia
3 tahun mahir mengambil perspektif si pengamat yaitu menginterpretasikan di sini dan di sana, ini dan itu, di
depan dan di belakang, dengan
benar (de Villiers & de Villiers, 1974).
Dalam
keadaan bermain ini, kata deiktik mempunyai titik acuan tetap yaitu tembok
antara anak itu dan si pengamat. Peneliti lain menemukan bahwa anak usia
prasekolah jelas membatasi penggunaan kata “ini”
untuk benda yang dekat tetapi mempunyai kesulitan dalam pengertian “ini” dan “itu” bila mereka tidak mempunyai titik acuan yang tetap. Banyak
anak usia 7 tahun juga tampak salah mengerti tentang istilah ini bila mereka
tidak setuju dengan perspektif pembicara (Webb & Abrahamson, 1976).
Kalimat pasif Kalimat pasif seperti kucing itu digigit oleh anjing merupakan struktur kalimat yang
lebih kompleks dibanding kalimat aktif, dan relatif jarang dipakai bahkan dalam
percakapan orang dewasa. Karena itu tidak mengherankan bila anak kecil merasa
lebih sulit untuk mengerti dan membentuk kalimat pasif dibandingkan kalimat
aktif.
Dengan
menggunakan permainan, peserta berusia 2 dan 3 tahun, dalam sebuah pengamatan,
tidak mempunyai kesulitan mengerjakan kalimat “Truk itu menabrak mobil” dengan
benar. Tetapi dalam menanggapi kalimat berita pasif, “Mobil itu ditabrak oleh
truk itu” mereka selalu mengerjakan sedemikian rupa sehingga mobil menabrak
truk. Tampaknya mereka menginterpretasikan kata benda pertama dalam sebuah
kalimat sebagai agen atau aktor (Bever, 1970).
Penemuan
ini ditiru lagi dalam ditiru lagi dalam sebuah penalitian yang lebih lengkap.
Anak berusia antara 2 dan 5 tahun diminta menggunakan sebuah boneka untuk
menirukan sejumlah kalimat pasif dan aktif. Beberapa kalimat menunjukan keadaan
yang mungkin terjadi (“Ibu menyusui anak-anaknya”) atau keadaan yang tidak
mungkin (“Beruang itu digigit tikus”) dan ada dintaranya yang “revesible” ;
yaitu posisi subyek dan obyek dapat diganti untuk menggambarkan kejadian lain
yang serupa serta mungkin terjadi, misalnya “Truk itu diikuti sebuah mobil”
adalah sama seperti “Mobil itu diikuti oleh sebuah truk” (Strohner &
Nelson, 1974).
Dalam
menarik kesimpulan dan mengerjakan kalimat-kalimat tersebut, anak-anak usia 2
dan 3 tahun tidak dibantu dengan struktur tata bahasa namun menggunakan sebuah
“strategi kejadian yang mungkin.” Yaitu mereka mengetahui apakah kejadian yang
digambarkan dalam kalimat itu mungkin terjadi dan mereka menanggapinya sesuai
dengan pengetahuan mereka, menirukan kalimat aktif atau pasif yang berhubungan
dengan kejadian yang mungkin dengan benar. Tetapi mereka melakukan kesalahan
sekitar 90% dalam kalimat yang mustahil. Misalnya kalimat “Kodok mengejar
buaya” dan “Buaya dikejar oleh kodok” ditirukan sebagai “buaya mengejar kodok”.
Seperti pada peserta dalam pengamatan sebelumnya, anak usia 2 dan 3 tahun lebih
sukar mengerti kalimat pasif dibanding kalimat aktif. Mereka mengerjakan banyak
kalimat aktif reversible (“Truk menabrak mobil”) dengan benar tetapi hanya
benar sekitar 30% dalam menirukan kalimat pasif (“Mobil itu ditabrak oleh
truk”).
Seperti
anak kecil, anak usia 4 tahun lebih mudah menginterpretasikan yang mungkin
dibanding kalimat yang mustahil, namun perbedaannnya tidak begitu besar. Mungkin
pada usia 4 tahun anak-anak lebih mampu menganalisis struktur tata bahasa
sebuah kalimat dan dengan demikian kurang tergantung pada strategi kognitif
lain seperti penafsiran tentang suatu kemungkinan. Anak usia 5 tahun tidak
mempunyai kesulitan dengan kalimat mungkin atau revesible, baik aktif maupun
pasif, tetapi mereka membuat kesalahan dalam menginterpretasikan kalimat pasif
mustahil. Tampaknya pada usia ini anak-anak lebih tergantung pada keterangan
sintaktik – struktur kalimat – dalam membuat interpretasi mereka (Strohner
& Nelson, 1974).
Kesadaran metalinguistik
Pengucapan
anak usia 4 atau 5 tahun menunjukan penguasaan jelas dari peraturan yang
kompleks tentang tata bahasa dan pengertian. Sampai berapa jauh anak-anak sadar
akan aturan-aturan ini? Sepertihalnya kompetensi kognitif yang selalu bergerak
maju, kesadaran metalinguistik membesar.
Bahasa itu sendiri menjadi sebuah topik bagi seorang anak untuk merenungkannya,
mencoba mengerti dan membicarakannya.
Anak-anak
prasekolah membedakan antara bunyi yang merupakan kata nyata dan yang tidak,
misalnya “apel” adalah sebuah kata,
sedang “oop” bukan. Anak kecil tidak
mengerti kata-kata yang diberikan pada benda secara acak. Hal ini lebih
disebabkan kebiasaan kebutuhan. Jika kita menanyai seorang anak prasekolah,
“Apakah kamu dapat mengatakan anjing itu
seekor sapi dan sapi adalah seekor
anjing?” Maka anak itu mungkin akan menjawab, “Tidak, anjing menggonggong
dan sapi memberi susu”. Atribut benda dipandang sebagai bagian dari kata
tersebut (Vygotsky, 1962).
Anak
usia 2 tahun dapat mengenali beberapa kalimat yang salah tata bahasanya. Bila
ia diberi sebuah kumpulan kalimat seperti “Makan kue itu” dan “Kunci yang
terbuka”, mereka dapat membedakan antara
kalimat yang benar dan yang salah walaupun pembedaannya masih dari sempurna
(Gleitman, Gleitman & Shipley, 1972). Jika mereka diminta untuk membenarkan
kalimat yang salah, banyak anak kecil mengusulkan perubahan arti dan bukan
hanya tata bahasa, misalnya merubah kalimat “rumah
untuk dibangun” menjadi “tinggal di
rumah”. Dengan meningkatnya proses kemantangan bahasa anak-anak bergerak
dari pembetulan yang mengubah arti menjadi pembetulan urutan kata-kata (de
Villiers & de Villiers, 1974).
“Reparasi
spontan” – saat-saat di mana seorang anak membuat kesalahan pengucapan,
mengenalinya, dan dengan spontan membetulkannya – memberikan bukti yang lebih
lanjut bahwa anak itu berfikir tentang peraturan tata bahasa. Seorang anak
berusia 3 tahun mengatakan “Saya – dia tidak memberinya makan”. Ia memulai
kalimatnya dengan kata yang salah, memberi obyeknya suatu tindakan dan kemudian
membetulkannya sendiri (Clark & Anderson, 1979).
Penelitian
terperinci mengenai bagaimana anak-anak berbicara bahasa Perancis belajar
dengan banyak elemen tata bahasa membuat seorang penyelidik menarik kesimpulan
bahwa anak kecil yang berusia kurang dari 8 tahun secara khusus memperlakukan
sebuah kata seolah-olah ia hanya mempunyai satu fungsi (Karmiloff-smith, 1979).
Salah satu analisis ditujukan pada penggunaan kata sandang Perancis “les”, yang mempunyai dua fungsi, secara
bersama-sma menyatakan jamak dan total ; contohnya, les livres (“buku-buku itu”) menunjukan semua buku yang ada.
Anak-anak dibawah usia 5 tahun dalam fase pertama sering menggunakan kata
sandang “les” tetapi hanya untuk
menandai kata jamak. Kalimat anak-anak antara usia 5 dan 8 tahun berisi lebih
banyak tanda dari yang diperlukan; anak mengatakan “tous les livres” (“all the books”) untuk menunjukan jumlah
keseluruhan, walaupun “les livres”
sendiri cukup untuk menyatakan hal ini. Banyak contoh lain redundasi atau
penandaan yang berlebihan (overmarking) terjadi dalam percakapan anak-anak pada
usia ini, terutama jika terdapat lebih dari satu pengertian dalam suatu
keadaan. Seorang anak mengatakan dalam bahasa perancis, “anak perempuan itu
mendorong anjing lalu anak laki-laki itu juga mendorong anjing itu sekali
lagi.” Penyelidik itu yakin bahwa walaupun melakukan penandaan yang berlebihan,
anak itu bereksperimen, mencoba mengerti arti kata yang berbeda dan mengaturnya
dalam struktur bahasa yang benar.
Setelah
usia 8 tahun anak itu sadar sepenuhnya akan semua atribut kata dan mengerti
bahwa beberapa kata mempunyai beberapa
fungsi, dengan demikian redundansi dan penandaan yang berlebihan akan menurun
secara bertahap. Anak itu telah mencapai tingkat abstrak kompetensi bahasa yang
lebih matang dan berhubungan erat dengan kesadaran metalinguistik yang
meningkat. Anak itu lebih merenungkan bahasa dan membuat penilaian yang
tergantung pada bahasa itu sendiri seperti pada orang sewasa (Karmiloff-smith,
1979).
Dengan
kesadaran melanguistik yang lebih besar datanglah penghargaan pada ambiquitas
atau pengertian fakta bahwa beberapa kata tertentu, kalimat, bagian kalimat
dapat berarti lain dalam konteks yang berbeda. Ambiquitas dalam bahasa dan
pengertian arti kata yang berbeda menunjukkan kemampuan untuk membentuk metafor
dan humor.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar