Sabtu, 16 Agustus 2014

KALIMAT DINI DAN PERKEMBANGAN TATA BAHASA





Jika perbendaharaan kata mereka mencapai 50 kata pada sekitar usia 18 bulan hingga 2 tahun, anak-anak mulai menggabungkan dua kata menjadi satu: lihat anjing, mana papa, lempar bola,buat kue. Setelah gabungan dua kata ini timbul, jumlah gabungan kata-kata yang berbeda meningkat secara lambat, kemudian secara tiba-tiba melonjak dengan cepat. Contohnya seorang anak mengucapkan gabungan dua kata pada usia 19 bulan dan menggunakan 14 kombinasi dua kata yang berbeda selama bulan itu. Dalam 6 bulan berikutnya jumlah kombinasi dua kata yang digunakannya meningkat menjadi 24, 54, 89, 250, 1.400 dan lebih dari 2.500 (Branie, 1963).
  Pembicaraan telegrafik                                                         
             Gabungan dua kata paling dini dan seorang anak tampaknya merupakan bentuk singkat kalimat orang dewasa yang terutama terdiri dari kata benda, kata kerja, dan beberapa kata sifat. Seperti halnya sebuah telegram, yang hanya terdiri kata-kata yang perlu, sedangkan kata depan, kata sambung, dan lain-lain dihilangkan.
Bila kita meminta kepada seorang anak yang berusia antara 2 atau 3 tahun untuk mengulang sebuah kalimat sederhana misalnya, “Saya dapat melihat seekor sapi,” maka jawabannya seringkali berbentuk seperti sebuah telegram: “Lihat sapi” atau “Saya lihat sapi”. Walaupun beberapa kata dihilangkan dapat dibuktikan adanya keteraturan dan menuruti suatu peraturan tertentu. Kata-kata terpenting diulang dan urutan kata yang benar dipertahankan. Hampir semua kalimat dua kata yang pertama dari seorang anak menunjukkan suatu sistematika dan urutan kata-kata yang sesuai. Sejak semula anak-anak mengikuti peraturan tata bahasa yang sederhana. Mereka menunjukkan hubungan dasar tata bahasa antara subyek, kata kerja, dan obyek kata kerja dengan meletakkan bagian pembicaraan ini secara benar dalam kalimat-kalimat mereka yang pertama. (misalnya,”Saya tangkap bola”). “Contoh kalimat diproses oleh anak itu sebagai suatu bentuk konstruksi dan tidak hanya sebagai daftar kata-kata saja” (Brown, 1973).
Kalimat-kalimat telegrafik menyatakan arti yang sangat luas. Tujuan anak dapat disimpulkan dari urutan kata dan juga dari keadaannya. Contoh dari pembicaraan dini pada anak-anak yang berbicara dalam berbagai bahasa Inggris, Jerman, Rusia, Finland, Turki, dan Luo (bahasa di Kenya) – menunjukkan “suatu bentuk yang seragam pada anak-anak dan bahasa dalam arti kata yang dinyatakan oleh ucapan dua-kata yang sederhana” (Slobin, 1971). Hubungan semantik atau arti kata-kata khas dari pembicaraan dini diperlihatkan dalam tabel 6.1. kemiripan isi dua-kata dari anak-anak yang berbicara dalam bahasa yang sangat berbeda menunjukkan bahwa ucapan dini timbul dari perubahan perkembangan kognitif yang universal dan dari kerangka pikiran, tindakan dan interaksi sosial anak tersebut. Bicara timbul dari pengalaman dengan benda, kegiatan dan interaksi umum dengan orang lain dari berbagai kebudayaan (Slobin, 1971).
Perluasan ucapan telegrafik Setelah pernyataan telegrafik mereka yang pertama, anak-anak mengeluarkan kalimat-kalimat dengan kata-kata yang kurang penting seperti kata depan dan kata sifat. Infleksi yang dihilangkan sebelumnya sekarang dipakai (Bowerman, 1982). Kalimat pendek mula-mula diperluas dengan “memasukkan” lebih banyak komponen. Lihatlah urutan pernyataan seorang anak berusia 2 tahun yang bernama Junus: “Duduklah ... Junus duduk ... Junus duduk (berhenti sejenak) kursi.” Bentuk pertama terdiri dari sebuah predikat (“duduklah”), kemudian diperluas dengan memberi subyek (“Junus”), lalu dimasukkan kata keterangan “kursi” (versi keterangan tempat “di atas kursi”). Junus menggunakan pengetahuannya tentang peraturan kata bahasa yang menentukan urutan kelas kata dalam bahsa subyek – predikat – obyek – lokasi (di mana) (Brown, 1973).
Tampaknya anak mulai menggunakan kata depan, infleksi dan kata kerja bantu dalam urutan yang teratur. Dalam suatu penelitian longitudinal terhadap tiga anak kecil, Roger Brown mengidentifikasi suatu urutan dari yang sederhana hingga yang kompleks. Sebagai contoh ketiga anak itu menggunakan bentuk “-ing” dari kata kerja dalam bahasa inggris sebelum mereka menggunakan kata kerja bantu. Jadi anak-anak mengatakan “I going” dan “She going” sebelum mereka mengatakan “I am going” dan “She is going”. Pada mulanya bentuk suatu kata yang baru didapat mungkin jarang digunakan. Tetapi setelah 2 atau 3 tahun jumlah frekuensi penggunaan yang tepat meningkat sampai ke tingkat orang dewasa.
Overegularisasi Cara anak-anak menunjukkan perkembangan pengetahuan mereka tentang peraturan tata bahasa ialah dengan membuat kesalahan-kesalahan. Overegularisasi adalah kecondongan untuk menghindari bentuk tidak teratur dari kata kerja dan kata benda majemuk serta menggunakan bentuk yang umum saja. Hal ini digambarkan dalam komentar seorang anak berusia 3 tahun, “The mouses runned away.” Pembicara ini mengetahui bahwa bentuk jamak dibentuk dengan menambahkan “-s” pada kata benda tunggal dan bahwa waktu lampau sebuah kata kerja dibentuk dengan menambahkan “-ed”. Ini merupakan dua peraturan yang penting dalam bahsa inggris yang harus dipelajari, walaupun tidak selalu demikian halnya. Sebelum anak-anak belajar peraturan ini, mereka sering menggunakan bentuk yang tidak teratur dengan benar. Setahun sebelumnya anak usia 3 tahun tadi mungkin menunjukan ke beberapa tikus dan berkata “Mice.” Beberapa waktu kemudian, setelah ia belajar peraturannya, anak-anak cenderung menghindari ketidakteraturan dalam pembicaraan orang dewasa (Slobi, 1971).
Kalimat kompleks
Bila kalimat sederhana yang panjangnya sekitar empat kata menjadi halnya yang umum dan infleksi telah dikuasai secara umum antara usia 2 dan 3 tahun kalimat-kalimat yang kompleks mulai timbul secara spontan dalam pembicaraan seorang anak. Kalimat ini mungkin terdiri dari dua atau lebih kalimat sederhana yang digabungkan dengan kata penghubung “dan” (contoh, “Kamu memanggil dan Saya datang”) atau suatu pemikiran ada didalamnya (contoh, “Saya harap saya tidak melukainya”).
Untuk membuat kalimat yang kompleks, anak-anak harus mempelajari peraturan cara menggabungkan kelompok kata yang lebih besar dan menggabungkan kata sambung (misalnya dan, tetapi, karena). “Dan” umumnya merupakan kata sambung pertama dan yang paling sering dipakai dalam perbendaharaan kata anak selama tahun ketiga. “Karena”, “apakah”, “bilamana” juga sering digunakan, sedang “kemudian”, “tetapi”, “jikalau”, dan “bahwa” lebih jarang timbul (Bloom, Lahey, Hood, Lifter, & Fies, 1980).
Kalimat kompleks dini anak-anak, menyatakan sejumlah arti yang berbeda. Urutan timbulnya hubungan semantik cukup konstan, walaupun beberapa anak memulai urutan ini lebih awal dan bergerak maju lebih cepat dari yang lain. Hubungan aditif yang dikemukakan pertama kali (“Kamu dapat mengangkat itu dan saya dapat mengangkat ini “) diikuti oleh keterangan waktu dan sebab (“Sebaiknya kamu mencarinya bila kembali ke rumah”, “Ia memasang plester di sepatunya dan hal ini membuatnya merasa lebih baik”). Hubunan kontras atau berawalan (“Saya lelah tetapi sekarang tidak lagi”), spesifikasi obyek (“Orang laki-laki itu yang membetulkan pintu “), dan pemberitahuan (“Perhatikan apa yang akan saya lakukan”) timbul kemudian. Selama tahun ketiga, kemajuan dalam penggunaan kalimat yang kompleks biasanya lambat dan tanpa lonjakan kedepan yang tiba-tiba atau perubahan cepat dari suatu bentuk kebentuk yang lain (Bloon ct al., 1980).

Pertanyaan Kemajuan perkembangan bahasa juga terbayang dalam kemajuan secara bertahap namun teratur dalam penghasilan dan pengertian sebuah pertanyaan. Seorang anak berusia 2 tahun mengerti arti “ya” dan “tidak”, seperti juga pertanyaan “di mana”, “siapa”, dan “apa”, dan secara umum menjawab nya dengan benar. Pertanyaan ini mengenai manusia, benda, dan tempat-tempat dengan hal yang menjadi perhatian dan diucapkan anak-anak dalam kalimat pertama mereka. Pada usia ini pertanyaan dengan bila mana, bagaimana, dan mengapa dijawab seolah-olah  mereka ditanyai apa atau di mana. (Q: Bila kamu makan siang? A: Dalam dapur. Q: Mengapa kamu memakan itu? A: Itu sebuah apel). Pada usia sekitar 3 tahun anak-anak mulai menjawab pertanyaan “mengapa” dengan benar (Ervin-Tripp, 1977). Frekuansi jawaban yang betul dari semua jenis pertanyaan “apa”, “mengapa” meningkat pada usia 3 dan 5 tahun (Tyack, 1966).
Pertanyaan ya atau tidak yang pertama dihasilkan merupakan pertanyaan yang berakhir dengan nada meninggi (“Kaus kaki mama?”). “Apa” dan “di mana” merupakan kata tanya awal yang paling dini dan paling sering timbul dalam pertanyaan spontan seorang anak. “Mengapa”, “bagaimana” dan “bilamana” mulai timbul sekitar 3 tahun dan lebih meningkat penggunaannya selama 2 tahun berikutnya (Tyack & Imgram, 1977). Pada mulanya kata tanya diletakkan pada permulaan kalimat tanpa mengubah urutan kata dan pertanyaan, ditandai secara sederhana dengan menambahkan tekanan interogatif pada akhir kalimat (“Apa mama lakukan?” “Ke mana papa pergi?” “ Mengapa Joni tidak dapat makan kue?”).
            Jika anak-anak mulai membentuk kalimat yang lebih kompleks mereka juga merubah kata kerja dan kata benda dalam pertanyaan ya atau tidak dengan benar (“Apakah engkau akan menolong saya?”). tetapi mereka masih gagal membuat inversi ini dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan dengan kata-kata di atas lebih kompleks secara tata bahasa dibanding pertanyaan ya atau tidak. Dibutuhkan dua operasi: memasukkan kata tanya dan merubah subyek serta kata kerjanya. Pada tahap ini seorang anak dapat melakukan masing-masing operasi secara terpisah, tetapi belum dapat menggabungkannya dalam kalimat yang sama.
Kata-kata deiktik   Kata-kata deiktik ialah kata-kata seperti di sini, di sana, ini, itu yang menunjukan lokasi benda dari pembicaraan. Pengertian anak dan kata-kata yang dihasilkan ini muncul menunjukan bahwa anak kecil mampu mengambil titik pandangan orang lain. Anak berusia 2 tahun jelas mengerti perspektif pembicaraan jika diinterpretasikan kata-kata di sini dan di sana. Jika seorang ibu mengatakan pada anaknya yang ada di ruangan lain, “Mainanmu ada di sini”, maka anak itu akan bergerak ke arah ibu yang berada di sudut ruangan untuk mengambilnya. Selanjutnya “ini”, “itu” dan “di sana” sering digunakan oleh anak kecil yang berusia dua tahun. Tetapi penemuan dalam laboratorium menunjukkan, pengertian istilah-istilah ini secara lengkap tidak tercapai hingga beberapa tahun setelah timbulnya pembicaraan anak pertama kali suatu kasus produksi yang mendahului suatu pengertian (de Villiers & de Villiers, 1977).
Dalam sebuah penelitian, seorang anak yang berusia antara 2 dan 5 tahun duduk berhadapan di meja yang berlawanan dengan si pengamat. Mereka bersama-sama bermain sambil menghadap sebuah dinding rendah di atas pertengahan meja. Tiap anak mempunyai sebuah cangkir yang terbalik. Sementara itu mata anak ditutup, pengamat meletakkan gula-gula di bawah salah satu cangkir. Kemudian pengamat memberi beberapa petunjuk misalnya, “Gula-gula itu berada di bagian ini dari tembok” (atau “di bawah cangkir saya” atau “di sini” atau “di depan tembok”). Untuk mendapatkan gula-gula tersebut anak itu harus menerjemahkan pandangan orang lain ke dirinya sendiri – “di bagian ini dari tembok” (dari sisi pengamat) dipandang dari perspektif  anak ialah bagian itu. Semua anak telah siap membedakan antara milik saya dan milik kamu, tetapi anak usia 2 tahun mendapat kesulitan jika dibutuhkan perubahan perspektif. Anak usia 3 tahun mahir mengambil perspektif si pengamat yaitu menginterpretasikan di sini dan di sana, ini dan itu, di depan dan di belakang, dengan benar (de Villiers & de Villiers, 1974).
Dalam keadaan bermain ini, kata deiktik mempunyai titik acuan tetap yaitu tembok antara anak itu dan si pengamat. Peneliti lain menemukan bahwa anak usia prasekolah jelas membatasi penggunaan kata “ini” untuk benda yang dekat tetapi mempunyai kesulitan dalam pengertian “ini” dan “itu” bila mereka tidak mempunyai titik acuan yang tetap. Banyak anak usia 7 tahun juga tampak salah mengerti tentang istilah ini bila mereka tidak setuju dengan perspektif pembicara (Webb & Abrahamson, 1976).
Kalimat pasif  Kalimat pasif seperti kucing itu digigit oleh anjing merupakan struktur kalimat yang lebih kompleks dibanding kalimat aktif, dan relatif jarang dipakai bahkan dalam percakapan orang dewasa. Karena itu tidak mengherankan bila anak kecil merasa lebih sulit untuk mengerti dan membentuk kalimat pasif dibandingkan kalimat aktif.
Dengan menggunakan permainan, peserta berusia 2 dan 3 tahun, dalam sebuah pengamatan, tidak mempunyai kesulitan mengerjakan kalimat “Truk itu menabrak mobil” dengan benar. Tetapi dalam menanggapi kalimat berita pasif, “Mobil itu ditabrak oleh truk itu” mereka selalu mengerjakan sedemikian rupa sehingga mobil menabrak truk. Tampaknya mereka menginterpretasikan kata benda pertama dalam sebuah kalimat sebagai agen atau aktor (Bever, 1970).
Penemuan ini ditiru lagi dalam ditiru lagi dalam sebuah penalitian yang lebih lengkap. Anak berusia antara 2 dan 5 tahun diminta menggunakan sebuah boneka untuk menirukan sejumlah kalimat pasif dan aktif. Beberapa kalimat menunjukan keadaan yang mungkin terjadi (“Ibu menyusui anak-anaknya”) atau keadaan yang tidak mungkin (“Beruang itu digigit tikus”) dan ada dintaranya yang “revesible” ; yaitu posisi subyek dan obyek dapat diganti untuk menggambarkan kejadian lain yang serupa serta mungkin terjadi, misalnya “Truk itu diikuti sebuah mobil” adalah sama seperti “Mobil itu diikuti oleh sebuah truk” (Strohner & Nelson, 1974).
Dalam menarik kesimpulan dan mengerjakan kalimat-kalimat tersebut, anak-anak usia 2 dan 3 tahun tidak dibantu dengan struktur tata bahasa namun menggunakan sebuah “strategi kejadian yang mungkin.” Yaitu mereka mengetahui apakah kejadian yang digambarkan dalam kalimat itu mungkin terjadi dan mereka menanggapinya sesuai dengan pengetahuan mereka, menirukan kalimat aktif atau pasif yang berhubungan dengan kejadian yang mungkin dengan benar. Tetapi mereka melakukan kesalahan sekitar 90% dalam kalimat yang mustahil. Misalnya kalimat “Kodok mengejar buaya” dan “Buaya dikejar oleh kodok” ditirukan sebagai “buaya mengejar kodok”. Seperti pada peserta dalam pengamatan sebelumnya, anak usia 2 dan 3 tahun lebih sukar mengerti kalimat pasif dibanding kalimat aktif. Mereka mengerjakan banyak kalimat aktif reversible (“Truk menabrak mobil”) dengan benar tetapi hanya benar sekitar 30% dalam menirukan kalimat pasif (“Mobil itu ditabrak oleh truk”).
Seperti anak kecil, anak usia 4 tahun lebih mudah menginterpretasikan yang mungkin dibanding kalimat yang mustahil, namun perbedaannnya tidak begitu besar. Mungkin pada usia 4 tahun anak-anak lebih mampu menganalisis struktur tata bahasa sebuah kalimat dan dengan demikian kurang tergantung pada strategi kognitif lain seperti penafsiran tentang suatu kemungkinan. Anak usia 5 tahun tidak mempunyai kesulitan dengan kalimat mungkin atau revesible, baik aktif maupun pasif, tetapi mereka membuat kesalahan dalam menginterpretasikan kalimat pasif mustahil. Tampaknya pada usia ini anak-anak lebih tergantung pada keterangan sintaktik – struktur kalimat – dalam membuat interpretasi mereka (Strohner & Nelson, 1974).
Kesadaran metalinguistik
Pengucapan anak usia 4 atau 5 tahun menunjukan penguasaan jelas dari peraturan yang kompleks tentang tata bahasa dan pengertian. Sampai berapa jauh anak-anak sadar akan aturan-aturan ini? Sepertihalnya kompetensi kognitif yang selalu bergerak maju, kesadaran metalinguistik membesar. Bahasa itu sendiri menjadi sebuah topik bagi seorang anak untuk merenungkannya, mencoba mengerti dan membicarakannya.
Anak-anak prasekolah membedakan antara bunyi yang merupakan kata nyata dan yang tidak, misalnya “apel” adalah sebuah kata, sedang “oop” bukan. Anak kecil tidak mengerti kata-kata yang diberikan pada benda secara acak. Hal ini lebih disebabkan kebiasaan kebutuhan. Jika kita menanyai seorang anak prasekolah, “Apakah kamu dapat mengatakan anjing itu seekor sapi dan sapi adalah seekor anjing?” Maka anak itu mungkin akan menjawab, “Tidak, anjing menggonggong dan sapi memberi susu”. Atribut benda dipandang sebagai bagian dari kata tersebut (Vygotsky, 1962).
Anak usia 2 tahun dapat mengenali beberapa kalimat yang salah tata bahasanya. Bila ia diberi sebuah kumpulan kalimat seperti “Makan kue itu” dan “Kunci yang terbuka”,  mereka dapat membedakan antara kalimat yang benar dan yang salah walaupun pembedaannya masih dari sempurna (Gleitman, Gleitman & Shipley, 1972). Jika mereka diminta untuk membenarkan kalimat yang salah, banyak anak kecil mengusulkan perubahan arti dan bukan hanya tata bahasa, misalnya merubah kalimat “rumah untuk dibangun” menjadi “tinggal di rumah”. Dengan meningkatnya proses kemantangan bahasa anak-anak bergerak dari pembetulan yang mengubah arti menjadi pembetulan urutan kata-kata (de Villiers & de Villiers, 1974).
“Reparasi spontan” – saat-saat di mana seorang anak membuat kesalahan pengucapan, mengenalinya, dan dengan spontan membetulkannya – memberikan bukti yang lebih lanjut bahwa anak itu berfikir tentang peraturan tata bahasa. Seorang anak berusia 3 tahun mengatakan “Saya – dia tidak memberinya makan”. Ia memulai kalimatnya dengan kata yang salah, memberi obyeknya suatu tindakan dan kemudian membetulkannya sendiri (Clark & Anderson, 1979).
Penelitian terperinci mengenai bagaimana anak-anak berbicara bahasa Perancis belajar dengan banyak elemen tata bahasa membuat seorang penyelidik menarik kesimpulan bahwa anak kecil yang berusia kurang dari 8 tahun secara khusus memperlakukan sebuah kata seolah-olah ia hanya mempunyai satu fungsi (Karmiloff-smith, 1979). Salah satu analisis ditujukan pada penggunaan kata sandang Perancis “les”, yang mempunyai dua fungsi, secara bersama-sma menyatakan jamak dan total ; contohnya, les livres (“buku-buku itu”) menunjukan semua buku yang ada. Anak-anak dibawah usia 5 tahun dalam fase pertama sering menggunakan kata sandang “les” tetapi hanya untuk menandai kata jamak. Kalimat anak-anak antara usia 5 dan 8 tahun berisi lebih banyak tanda dari yang diperlukan; anak mengatakan “tous les livres” (“all the books”) untuk menunjukan jumlah keseluruhan, walaupun “les livres” sendiri cukup untuk menyatakan hal ini. Banyak contoh lain redundasi atau penandaan yang berlebihan (overmarking) terjadi dalam percakapan anak-anak pada usia ini, terutama jika terdapat lebih dari satu pengertian dalam suatu keadaan. Seorang anak mengatakan dalam bahasa perancis, “anak perempuan itu mendorong anjing lalu anak laki-laki itu juga mendorong anjing itu sekali lagi.” Penyelidik itu yakin bahwa walaupun melakukan penandaan yang berlebihan, anak itu bereksperimen, mencoba mengerti arti kata yang berbeda dan mengaturnya dalam struktur bahasa yang benar.
Setelah usia 8 tahun anak itu sadar sepenuhnya akan semua atribut kata dan mengerti bahwa beberapa kata mempunyai  beberapa fungsi, dengan demikian redundansi dan penandaan yang berlebihan akan menurun secara bertahap. Anak itu telah mencapai tingkat abstrak kompetensi bahasa yang lebih matang dan berhubungan erat dengan kesadaran metalinguistik yang meningkat. Anak itu lebih merenungkan bahasa dan membuat penilaian yang tergantung pada bahasa itu sendiri seperti pada orang sewasa (Karmiloff-smith, 1979).
Dengan kesadaran melanguistik yang lebih besar datanglah penghargaan pada ambiquitas atau pengertian fakta bahwa beberapa kata tertentu, kalimat, bagian kalimat dapat berarti lain dalam konteks yang berbeda. Ambiquitas dalam bahasa dan pengertian arti kata yang berbeda menunjukkan kemampuan untuk membentuk metafor dan humor. 
                                                                                                                                                                                                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar